Penyakit Absurd

Sumber Gambar : www.google.com


Hari ini pikiran gue acak-acakan sama kayak perasaan aku ke kamu, acak-acakan ditengah ketidak-jelasan. Gue mau menulis sesuatu yang santai, humoris dan enak untuk dibaca serta enak buat dimusnahin ketika nggak terlalu menarik. Itu keinginan gue, sementara keinginan pikiran gue berkata lain, pikiran gue selalu melawan sama gue, nggak mau menurutin kemauan gue, coba sekali aja mau menurutin kemauan gue, pasti gue kasih imbalan.

Pikiran gue lebih mendukung untuk menulis acak-acakan dengan kadar ketidak-jelasan 100% dan absurd diatas 70% sehingga membuat pembaca tulisan gue menangis, menangis karena nggak mengerti maksud dan tujuannya. Sungguh mulia tujuan pikiran gue menulis, bikin hidup orang sengsara.

Ngomong-ngomong soal sengsara, orang yang selalu bikin orang lain sengsara bakalan disengsarain Allah SWT di dunia dan akhirat, maka dari itu nggak usah bikin orang lain sengsara, mendingan bikin orang lain merasa terbantu dengan adanya kita dan akhirnya tersenyum bareng.

Masalah kayak ginilah yang sering kali gue hadapin dalam menulis, selain masalah hidup lainnya, absurd dan nggak jelas kadar maksud dan tujuannya menjadi dua hal yang sering gue temuin jika menulis, seandainya aja ada obat buat mengobatin penyakit gue dalam menulis bakalan nggak gue beli karena dengan penyakit absurd dan nggak jelas ini, gue bisa kembali menulis. Inilah penyakit yang gue sayang-sayangin dan gue harap nggak bisa disembuhin sampai ajal menjemput gue.

Hanya penyakit absurd dan nggak jelas aja yang gue sayang-sayangin, sementara penyakit lain nggak gue biarkan untuk menyerang, salah satu penyakit yang ogah banget gue milikin, yaitu munafik. Seandainya gue dikasih uang 1 Milyar buat jadi orang munafik tentu gue ambil uangnya dan sifat munafiknya nggak gue ambil, padahal sama aja gue sama orang-orang munafik, pura-pura mengiyakan demi mendapatkan keuntungan.

Gue nggak terlalu suka dan terkadang mengarah kepada benci sama orang-orang munafik dan untuk mantan serta gebetan yang udah memanfaatin gue, gue tetap nggak benci sama kalian, cuman dendam aja. Menurut gue, orang-orang munafik itu adalah sampah yang nggak bisa didaur ulang lagi dan harus dimusnahin sama kayak tulisan gue ini, jika nggak terlalu menarik bakalan dimusnahin juga.

Butuh waktu dan tenaga buat musnahin sampah yang nggak bisa didaur ulang, tapi mau bagaimana lagi, apabila dibiarkan bakalan bikin lingkungan sekitarnya tercemar, mending tercemar rindu sama kamu, efek sampingnya cuman nggak tidur semalaman, ujung-ujungnya minta dilamarin sama orang tua sambil nangis-nangis, beda halnya tercemar sama sampah, efek samping bikin lingkungan nggak enak buat didiamin.

19 comments:

Wisnu Tri said...

Oke! Kalau mau musnahin ini tulisan, barkabar ya? Nanti saya bantu. Hahaha.... ^^V becanda ding

MI Muhammadiyah Kecepit said...

nggak mau kalau tercemar rindunya, bikin nangis semalaman, nggak bisa tidur, nggak enak makan. duh berat, apalagi rindunya sama mantan yang udah punya gebetan. hhh

Ella fitria said...

Rindu juga mencemari kenikmatan hidup. Yakan rindunya ke mantan, hhh

Mei Sintiya said...

mending tercemar rindu sama kamu, efek sampingnya cuman nggak tidur semalaman, ujung-ujungnya minta dilamarin sama orang tua sambil nangis-nangis

Anonymous said...

Saya juga gitu kalau lagi bingung mau nulis apa, apapun yang ada sembarang pokoknya ditulis.

vika hamidah said...

hehehe.. saya stuju sih kang.. Saya juga kurang suka dengan orang yang munafik.. Lebih baik apa adanya itu lebih enak untuk hubungan pertemanan maupun hubungan percintaan. Semoga kita dijauhkan dari sifat seperti itu ya. Aminn

Sungai Awan said...

wah ini penyakit tidak jelas kayaknya
belum ada di daftar penyakit ya

Dwi Sugiarto said...

Penyakit absurd perlu dimasukkan kedalam kamus deh kayaknya

Djangkaru Bumi said...

Semua itu perlu proses, pendewasaan perlu waktu dan pengalaman. Untuk menjadi baikpun harus belajar. Bahkan harus jatuh dulu. Tapi apa boleh buat, kita hanya dituntut untuk menjalani. Protes sepertinya hanya sia-sia. Justru semakin melumpuhkan daya dan tenaga.
Ah saya ini ngomong apa ya? kok jadi ikut-ikutan acak-acakan.

himawan sant said...

Jangan dibakar artikel ini, bagus kok.
Nyatanya, banyak yang komentar kan 😉 ?
Hehehe

Maschun said...

wah kalau saya mending tercemar rindu sama kamu daripada tercemar oleh sampah, hehehe

Rizal Hidayat said...

Hahaha. Disayang karena bikin nyaman nieh si penyakit absurdnya. Karena nyaman adalah koentji

Desi Oe said...

Sama seperti sy...banyak tulisan asal akhirnya pada nongkrong cantik di draft..kwkwk

Blogger Hanafi said...

penyakit apa ya absurd..

baru pertama kali mau dengar nie

Akhmad Muhaimin Azzet said...

Penyakit absurd yang akhirnya menghasilkan sebuah tulisan yang menarik :)

Sungai Awan said...

meski absurd tapi masih bisa menulis

Dzaky Dewan said...

Lagi galau apa gan, kira kira peneyebabnya apa nih, mungkin ane bisa mbantu!

Idris Hasibuan said...

Musanahin mantan atau tulisan ini jadiny?

farida said...

duh, galau banget ya. #pukpukpuktimpuk

Post a Comment